top of page

Love You Always Mama!

  • Dec 27, 2016
  • 3 min read

"Imperfection is beauty. Madness is genius ant it's better to absolutely ridiculous than absolutely boring."

- Marilyn Monroe


Masih dalam suasana Hari Ibu, saya mau bercerita sedikit tentang Mama saya. Saya anak pertama dari dua bersaudara, tapi tak jarang siapapun orang pertama yang baru kenal atau ketemu pasti menganggap saya anak tunggal atau anak terakhir, padahal nyatanya saya memiliki adik yang memnag tidak terpaut jauh umurnya. Dan mungkin karena beberapa hal yang nanti akan saya ceritakan membuat saya nilai sebagai anak yang lebih muda.


Mama mengajarkan kami untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri, peka terhadap sesama, memiliki kasih sayang, dan hal-hal mendasar lainnya. Tapi nilai yang paling penting adalah saya harus bisa melindungi adik saya. Dan memang keterikatan antara saya dan adik ini sangat kuat. Mama juga merupakan Ibu yang super protektif dan posesif, terlebih ke saya. Mungkin kalau bisa, 24 jam saya harus terus bersama beliau. Pada saat saya SMP saya belum begitu merasakannya, tapi ketika saya SMA saya merasakan hal-hal yang banyak sekali "belum waktunya".


Mama selalu menggunakan kata sakti itu, padahal saya ingin merasakan hebohnya menjadi remaja yang bebas dan pergi kemana aja. Tapi disisi lain Mama mengajarkan saya untuk menjadi anak yang mandiri dan kuat. Kadang saya heran, punya Mama yang super protektif tapi bisa mengajarkan saya sebagai anak yang super mandiri. Saya bisa mengurus keperluan saya sendiri, saya ga masalah kalau harus nonton atau beli barang sendiri tanpa ditemani. Sampai ketika mau ditemani saya banyak menolaknya karena sudah nyaman dan bisa ngurus dan berangkat sendiri. Tidak jarang adik saya bilang saya ini kelewat mandiri.


Tapi dibalik keprotektifan Mama, Mama juga harus merelakan saya yang akhirnya kuliah dengan jarak tempuh yang lumayan jauh (walaupun tetap jam berapapun harus pulang, kalo bisa dianter jemput !), saya mulai mengenal beberapa kegiatan-kegiatan lain, saya ikut beberapa komunitas dan aktif didalamnya. Mungkin buat Mama ini hal terberat, karena anaknya sudah tidak lagi banyak menghabiskan waktu bersama beliau. Kadang kami harus menyusun waktu untuk bisa sekedar jalan bersama, atau sengaja mengundang teman-teman untuk main ke rumah, supaya saya tidak main keluar. Mama, walaupun seorang yang posesif tapi Mama tidak pernah membatasi saya untuk berteman dengan siapa saja. Mama akan selalu menerima baik siapapun teman yang saya bawa ke rumah dan Mama akan langsung menganggap mereka sebagai anak beliau juga.


Dan disinilah saya sekarang, setelah hampir 4 tahun saya disibukkan dengan hal-hal studi dan kegiatan kampus yang menguras tenaga dan pikiran karena harus berbagi waktu, tapi sekarang Tuhan mendekatkan saya dengan Mama. Saya sedang disibukkan dengan hal-hal yang memiliki keterikatan dengan Mama. Disisi lain saya juga membuktikan kata sakti Mama kalau saya mulai diijinkan untuk bisa pergi dengan teman-teman, menghabiskan waktu bersama mereka, jalan-jalan dan spending time dengan waktu yang lebih lama (dengan syarat mereka ijin dan Mama selalu bilang "jagain yaaa"). Dan kebiasaan saya memang akan selalu kasih kabar ke Mama ketika saya pindah tempat atau pindah main dengan teman yang lain.


Kami sama-sama belajar tentang kata sakti "belum waktunya". Dulu saya sempat mengeluh karna banyak sekali larangan atau waktu yang bisa saya lakukan bersama teman-teman sangat terbatas, tapi seiring berjalannya waktu kami sama-sama mengerti bahwa Tuhan memberikan porsi yang menurut saya cukup adil untuk saat ini. Mama memang tidak terlalu posesif ke adik saya, banyak yang bilang "ya karna kamu cewek mungkin." tapi saya merasakan ada hal lain yang memang Mama jaga untuk saya. Dan saya bersyukur sekali hingga detik ini tidak ada yang saya sesali dengan apapun yang Mama ajarkan. Mama membayar lunas utang untuk saya bisa merasakan waktu lebih lama dengan teman-teman dengan jauh lebih bijaksana dan saya rasakan ketika memang sudah waktunya semua jadi terasa lebih menyenangkan. Hebatnya lagi seprotektif apapun Mama tidak mengajarkan anaknya sedikitpun menjadi manja dan tidak bisa apa-apa.Karena kami memang harus tetap berusaha sendiri. Mama pernah bilang "Kalau mau manja, nanti kalau sudah sama Mama." Jadi Mama memang memersiapkan saya untuk bisa apa saja, tapi ketika sudah balik "kandang" saya akan selalu menjadi seorang anak.


Salah satu pelajaran yang saya dapat dari posesif dan protektifnya Mama adalah, saya harus mengenali "rumah" (keluarga) saya dulu. Saya harus mau tidak mau menerima "rumah" untuk menjadi tempat pulang, menjadi tempat ternyaman dan teraman apapun kondisinya. Mama mengajarkan untuk menghadapi dan mencari solusi bersama, karena keluargalah tempat segala pulang. Mama selalu bilang bahwa di ''rumah" ini sepenuhnya saya akan diterima sebagaimana saya. Dan untuk keluarga jangkauan Mama sangat luas, bukan hanya Mama, Papa atau Adik, tapi juga yang lain. itu sebabnya kami semua dekat dengan Eyang, Pakdhe, Budhe, Om dan Tante.


Terimakasih Mama untuk kasih sayang yang tak pernah habis. Untuk segala sesuatu yang Mama ajarkan dan sangat mengena dihati. Untuk setiap ucapan yang membuat nyaman. Untuk kesempatan-kesempatan dan kepercayaan yang akhirnya diberikan.

Thankyou for everything you've learned about living in this world.


Love You, Always !


Comments


Recent Post

Categories

© 2023 by Salt & Pepper. Proudly created with Wix.com

bottom of page